Teruntuk, teman yang baik. Ini adalah tahun ke dua aku menuliskan dan mengirimkan surat untukmu. Aku meminta maaf sebelumnya, karna tahun ini surat yang aku kirimkan terlambat satu hari. Seharusnya kemarin, pada tanggal 14 Februari. Tapi kemarin adalah surat cinta bertema, jadi terpaksa surat yang aku kirimkan untukmu terlambat satu hari. Kau tidak marah kan?
Kau tahu tidak, kemarin di luaran sana banyak sekali orang-orang yang berbagi kebahagiaan pada hari kasih sayang. Ya seperti biasanya memang. Mereka saling berbagi coklat, boneka-boneka menggemaskan, atau bahkan karangan bunga yang sangat cantik. Menyenangkan sekali rasanya ya bisa selalu merayakan valentine bersama orang-orang kesayangan bagi mereka yang memang mau merayakan valentine.
Keadaan itu sangat jauh berbeda denganku selama dua tahun terakhir ini, teman. Saat mereka mengirimkan coklat, boneka, atau bunga untuk orang yang mereka sayangi lalu melihat wajah orang tersebut tersenyum bahagia, aku hanya bisa mengirimkan doa dan karangan bunga sambil melihat nisanmu yang dingin dan membeku. Ya karna sejak 14 Februari 2014 lalu, kau tiba-tiba saja pergi tanpa permisi terlebih dahulu.
Kali ini aku tidak lagi menangis saat menulis surat untukmu, teman. Aku tak ingin menangisimu yang sudah berbahagia bersama Tuhan. Hanya saja, aku tak bisa memungkiri jika ada rasa getir yang bergejolak dalam hatiku setiap bertemu 14 Februari. Saat orang-orang saling berbagi kebahagiaan, aku justru harus mengingat dan mengenang kepergianmu pada hari kasih sayang.
Dan itu, menyakitkan.
No comments:
Post a Comment