February 16, 2016

Tentang Aku yang (masih) Menunggu

Teruntuk kamu, yang masih enggan beranjak dari ingatan.

Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk mengucapkan kata sayang lebih banyak dari sebelumnya. Jika sekali lagi kita bertemu, mungkin tak akan ku sia-siakan kesempatan terakhir itu untuk memperjuangkannya lebih keras dari sebelumnya.

Jika sekali lagi kita bertemu. Seandainya saja, sekali lagi yang aku pinta. Tidak banyak. Sialnya, aku harus menyadari jika semua yang aku inginkan memang hanya akan menjadi sebuah “jika”. Berandai-andai dalam semua seandainya yang aku impikan, dan mengimpikan semuanya yang tidak akan berubah menjadi sebuah kenyataan.

Lalu, aku harus bagaimana? Tetap berjalan sambil terus berusaha melupakan? Tetap tinggal sambil menahan tangis melihatnya menjauh? Tetap bertahan sambil terus berharap bahwa dia akan kembali berlari ke arahku?

Pilihan pertama terlalu sulit, karna aku pun masih sangat mencintainya. Pilihan ke dua tidak kalah sulitnya, karna aku pun masih selalu merindunya. Pilihan ke tiga? Aku bodoh apabila memilih pilihan yang terakhir, karna bahkan dia sudah enggan untuk menoleh lagi ke arahku, lalu untuk apa aku mengharapkan dia yang enggan kembali?

Sialnya, aku suka menjadi manusia yang bodoh. Jadi, aku akan tetap berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya kembali. Walaupun aku tahu, jika dia tidak akan pernah kembali. Tidak akan.

Dari aku, yang masih menunggu entah sampai kapan.

No comments:

Post a Comment